METI

MASYARAKAT ENERGI TERBARUKAN INDONESIA
Posted on Feb 08, 2018   |   Feature
Sehijau-hijaunya Turbin Angin, Tetap Bikin Pemanasan Lokal

KOMPAS.com - Pembatasan penggunaan energi fosil terus digalakkan oleh berbagai negara untuk melawan dampak perubahan iklim. Salah satu penggantinya adalah turbin angin.

Seperti yang kita tahu, turbin angin bisa mengubah suhu lokal dengan meningkatkan pencampuran udara di atas permukaan.

Namun, siapa sangka bila turbin angin masih berkontribusi terhadap perubahan iklim karena caranya dalam mendistribusikan panas dan kelembapan atmosfer.

Temuan ini dilaporkan oleh peneliti dari Harvard University dalam jurnal Joule.

Menurut para peneliti, jika Amerika Serikat sepenuhnya menggunakan energi angin, maka akan terjadi kenaikan suhu tanah 0,54 derajat Celcius di daerah tempat ladang angin berada.

Tak hanya itu, kenaikan suhu 0,24 derajat Celcius juga akan terjadi di seluruh daratan Amerika Serikat.

Sebagai perbandingan, suhu global rata-rata meningkat sekitar satu derajat Celcius sejak akhir abad ke-19.

Padahal, menurut kesepakatan iklim Paris, negara-negara diminta membatasi kenaikan suhu antara 1,5 hingga 2 derajat Celcius. Pembatasan ini diperlukan untuk menghindari konsekuensi lingkungan yang serius.

"Angin mengalahkan batu bara dalam ukuran lingkungan, tetapi itu tidak berarti dampaknya bisa diabaikan," ungkap David Keith, penulis senior penelitian ini dikutip dari AFP, Jumat (05/10/2018).

"Dampak iklim langsung dari tenaga angin terjadi secara instan, sementara manfaatnya berakumulasi perlahan," kata Keith.

Di sisi lain, para peneliti menyebut panel surya memiliki dampak pemanasan global 10 kali lebih kecil dibanding turbin angin untuk pembangkitan energi yang sama.

Dilansir dari Ars Technica, Minggu (07/10/2018), panel surya mempengaruhi suhu lokal dengan cara yang sangat berbeda, yaitu dengan mengubah di sinar matahari yang diserap di permukaan.

Karena panel surya dapat menghasilkan jumlah listrik yang sama di area yang jauh lebih kecil, pengaruhnya tidak terasa secara luas. Artinya, panel surya lebih baik dalam dampak perubahan iklim dibanding turbin angin.

"Jika perspektif Anda adalah 10 tahun ke depan, tenaga angin benar-benar memiliki lebih banyak dampak iklim dibanding batu bara atau gas (dalam beberapa hal). Jika perspektif Anda adalah 1.000 tahun berikutnya, maka tenaga angin sangat lebih bersih dibanding batu bara atau gas," tegasnya.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya penelitian dampak turbin angin dilakukan. Sebelumnya, laporan dalam jurnal Science menyimpulkan turbin angin bisa mempengaruhi suhu dan curah hujan lokal di gurun Sahara.

Penulis: Resa Eka Ayu Sartika
Editor: Resa Eka Ayu Sartika
Sumber: AFP, ARS Technica