METI

MASYARAKAT ENERGI TERBARUKAN INDONESIA
Posted on Feb 08, 2018   |   Feature
Ada Aturan Solar Panel, PLN Khawatir Bisnisnya Tergerus

Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam satu dua minggu rencananya akan ada aturan baru terkait penggunaan rooftop solar panel atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), yang listriknya nanti disebut bisa dijual beli dengan PT PLN (Persero). 

Tapi, diam-diam PLN khawatir apabila aturan ini nantinya berlaku. Sebab, pengggunaan PLTS disebut bisa berdampak pada bisnis PLN yakni konsumsi listrik yang turun. Maksudnya adalah turunnya konsumsi listrik yang dihasilkan dari pembangkit-pembangkit PLN sendiri.

Ini diungkap oleh Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman. "PLN enggak bisa juga dong bilang enggak boleh, karena ini cukup bagus untuk mereka menggunakan energi baru terbarukan. Tapi secara konsumsi PLN ya berkurang," kata Syofvi dijumpai di kantornya, Jumat (3/8/2018). 

Untuk mengatasi hal tersebut, Syofvi mengaku pihaknya akan mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak, misalnya dengan mencari pelanggan lain atau mengundang banyak investasi.

Adapun, Kepala Divisi Niaga PLN Yuddy Setyo Wicaksono mengatakan, sampai saat ini masyarakat pengguna rooftop solar memang masih tergolong kecil, yakni hanya sekitar 458 pelanggan, dari total seluruh pelanggan PLN secara nasional, yang sekitar 47 juta.

Yuddy menuturkan, pada dasarnya, perusahaan mendukung program energi baru dan terbarukan. "Sehingga untuk panel surya ini, sekarang konsepnya sedag dibicarakan, tapi kami yakinkan Peraturan Menteri nanti bisa jadi win-win solution," tutur Yuddy.

Ia juga berpendapat, perlu ada batasan kapasitas terpasang yang pas untuk panel surya, agar gerakan plafon naik-turun tidak menyebabkan kerusakan parah pada travo. Yuddy mencontohkan, misalnya dalam satu daerah ada yang dipasok travo sekian nVA.

Adapun, Yuddy menyebutkan, perusahaan menargetkan konsumsi listrik tahun ini sebesar 239 TWh, yang hingga semester I konsumsinya mencapai 112,46 TWh, atau baru mencapai 47% dari target.

Yuddy merinci konsumsi listrik industri sudah sebesar 36,328 GWh dengan pertumbuhan secara year on year sebesa 5,75%, sedangkan listrik untuk bisnis konsumsinya sudah 20,337 TWh dengan pertumbuhan 5,81% (yoy).

Adapun, untuk listrik rumah tangga tercatat sebesar 8,288 GWh dengan pertumbuhan 3,01% (yoy) dan listrik lain-lain sebesar 47,511 GWh dengan pertumbuhan 7,49% (yoy).

Meski realisasi konsumsi listrik belum mencapai 50%, Yuddy masih optimistis target yang telah dibuat bisa tercapai, utamanya dengan adanya gelaran Asian Games nanti.

"Sektor yang memakai besar saat ini adalah industri, karena ada beberapa event seperti Asian Games dan juga IMF World Meeting tentunya akan naik itu, sehingga kami siapkan untuk keandalan di unit-unit yang penting ," tandasnya. (gus)