METI

MASYARAKAT ENERGI TERBARUKAN INDONESIA
Posted on Feb 08, 2018   |   Feature
Bank Dunia Apresiasi Langkah Kongkret Indonesia Terkait Energi Baru Terbarukan

WAKIL Presiden Jusuf Kalla menekankan pemmanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus dari pemerintah Indonesia untuk lingkungan. Hal tersebut dukungan positif dari Bank Dunia.

"Kita utamakan renewable energy," kata Jusuf Kalla dalam pernyataan bersama dengan Chief Executive Officer Bank Dunia Kristalina Georgieva di Nusa Dua, Bali, dalam siaran persnya Kamis (11/10).

Hal tersebut merespon sikap sebagian organisasi non pemerintah (NGO) yang mengaitkan upaya mengoptimalkan manfaat EBT dengan persoalan lingkungan.

"Yang mengganggu lingkungan kan jelas yang mana. Oleh karena itu kita utamakan renewable energy," kata Jusuf Kalla.

Saat ini pemerintah memang telah memfokuskan pengembangan EBT dengan telah memasukkan kedalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Pemerintah menargetkan bauran EBT sebesar 23% hingga 2025.

Langkah tersebut diharapkan akan dapat mengurangi penggunaan energi fosil. Dengan demikian, pada akhirnya akan menghemat devisa negara dari sektor energi.

Pemerintah saat ini sudah mendorong pembangunan infrastruktur sejumlah EBT. Misalnya saja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, Sumatera Utara, yang sedang dalam proses pembangunan, serta PLTA Poso dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sindereng Rappang (Sidrap) di Sulawesi Selatan.

Proyek-proyek tersebut juga merupakan bagian dari Infrastruktur Strategis Ketenagalistrikan Nasional sebagai bagian integral dari Program 35.000 Mega Watt (MW) Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi ke luar Pulau Jawa.

Menyikapi langkah langkah Idonesia dalam mendorong EBT diapresiasi oleh Bank Dunia. Kristalina Georgieva menyatakan apresiasinya dan menilai langkah tersebut sebagai langkah kongkret dalam mengurangi emisi karbon.

"Itu hal yang Indonesia dapat banggakan. Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai 23% energi terbarukan pada 2025. Kami percaya indonesia akan memenuhi komitmen itu," tutur Kristalina Georgieva.

Kristalina menekankan, saat ini dunia harus mengakui bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi, dan sudah terjadi.

"Diperlukan langkah mitigasi yang lebih keras lagi untuk menekan pertumbuhan gas karbon. Pengalaman yang sedang kita bahas di Palu, ini ada peringatan bahwa kita harus menemukan keberanian dalam diri kita untuk menangani bencana ke level yang lebih tinggi," katanya. (OL-3)