METI

MASYARAKAT ENERGI TERBARUKAN INDONESIA
Posted on Feb 08, 2018   |   Feature
Terang LTSHE untuk desa terpencil di Buru

Buru - Warga Desa Waengapan, Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru, kini bisa menikmati penerangan setelah bertahun-tahun mengalami kegelapan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) memberikan bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang merupakan bagian Progam Nawa Cita Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Kepala Unit Pengendalian Percepatan dan Pembangunan Infrastruktur (UP3I) Kementerian ESDM Simon Laksmono Himawan mengatakan, kehadiran pihaknya ke Desa Waengapan dalam rangka sosialisasi fasilitas bantuan LTSHE untuk masyarakat. Saat ini, masih terdapat sekitar 2.500 desa yang belum teraliri listrik, termasuk Desa Waengapan. "Bantuan ini juga diberikan kepada sekitar 80 ribu penerima," ujarnya di Buru, Selasa (19/12).

Menurut Simon, bantuan LTSHE ini merupakan upaya pra-elektrifikasi bagi wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan PT PLN (Persero). Selama menunggu jaringan PLN masuk, masyarakat dapat menikmati penerangan dengan progam LTSHE. "Ini merupakan progam nasional dan mendapat perhatian dari bapak presiden," katanya.

Bantuan LTSHE ini terdiri dari satu unit panel surya berdaya 3 watt, empat lampu 3 watt, kabel, serta remote control yang mempunyai garansi 3 tahun. Lampu LTSHE ini dilengkapi dengan baterai lithium-ion dan anti pecah saat terjatuh.

Kepala Desa Waengapan, Antonius Nurlatu mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan LTSHE yang diberikan oleh Kementerian ESDM. "Kami berterimakasih masyarakat bisa menikmati penerangan," katanya.

Antonius berharap dengan adanya LTSHE ini bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Waengapan. "Anak-anak bisa belajar di malam hari dan memudahkan aktivitas," katanya.

Salah satu tokoh masyarakat, Peter Latubual juga mengapresiasi progam bantuan LTSHE ini. Menurutnya, juga warga desa selama ini menggunakan damar sebagai sumber cahaya di malam hari. "Penggunaan damar hanya di luar rumah karena asapnya tebal," katanya.

Untuk mendapatkan damar, warga harus berjalan lebih dari 10 kilometer ke dalam hutan. Damar merupakan alternatif termurah untuk penerangan karena bisa didapatkan dari alam. Peter mengatakan, warga jarang menggunakan minyak tanah sebagai sumber cahaya. "Harganya mahal hingga Rp20.000 per liter dan susah didapatkan," ujarnya.

Sebagai informasi, Desa Waengapan merupakan desa tempat tinggal warga asli Pulau Buru. Semenjak 2006, pemerintah memulai progam untuk suku-suku adat agar tinggal menetap dan tidak berpindah-pindah.